Ini Penjelasan Metode Sunat Tanpa Jarum Suntik

0
33
Ilustrasi Sunat dengan jarum suntik (Pixabay)

Jakarta, Stemlannews.com – Jika kita berkunjung ke rumah-rumah sunat yang memberikan penawaran layanan sunat, ada hal menarik yang perlu diulas. Dahulu setiap orang yang akan melakukan sunat, tentu tidak terlepas dengan melakukan suntik demi menghilangkan rasa sakit. Namun, kini ditawarkan bagaiamana sunat tanpa menggunakan jarum suntik.

Menurut data The American Psychiatric Association tercatat ada 10 persen dari warga dunia yang mengalami fobia jarum suntik. Biasanya, orang yang terpapar fobia ini akan menghindari perawatan medis dengan menggunakan jarum suntik. Sehingga akan menghambat proses perawatan, jika terkena penyakit.

Praktisi medis dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS menyebutkan teknologi sunat tanpa jarum atau needle-free injection yang saat ini sering dipergunakan pada instansi medis di Indonesia, berasal dari Korea.

“Saat ini kita masih impor teknologinya dari Korea. Disana biasanya dipergunakan untuk perawatan kecantikan atau estetika. Jadi yang sering menggunakan teknologi ini adalah dokter kulit atau dokter gigi,” kata dr. Mahdian, Rabu (19/6/2019).

BACA JUGA  RS.Yarsi Hadir Untuk Indonesia
dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS

Lebih lanjut, ia menjelaskan, teknologi ini menggunakan tiga komponen utama. Yaitu alat semprot cairan anestesi yang terbuat dari kaca, injektor dan pompa injektor.

“Sistem injektornya menggunakan tenaga pegas yang dapat disesuaikan dengan kekuatan penetrasi ke kulit sesuai dengan kebutuhan. Kalau tekanan besar maka nozzle akan masuk lebih dalam,” ucap dr. Mahdian lebih lanjut.

Kebutuhan ini bergantung pada tebal dan tipis kulit pasien. Kalau anak kecil, biasanya tipis. Dan semakin bertambah umur, akan semakin tebal.

“Jadi mekanisme pemberian anestesi ini dengan mengantarkan caranya obat ke dalam lapisan kulit melalui jaringan subkutan. Dengan kecepatan tinggi oleh tenaga pegas, obat dapat berpenetrasi ke dalam kulit melalui lubang yang sangat kecil,” paparnya.

dr. Mahdian menyampaikan penggunaan teknologi tanpa jarum suntik ini akan menghindari reaksi dari tubuh pasien.

“Reaksi dari penyuntikan itu kan bisa rasa nyeri, kulit biru maupun bengkak. Itu yang kita coba untuk hilangkan. Karena reaksi ini mampu memicu trauma,” ucap dr. Mahdian.

BACA JUGA  Dokter Indonesia Temukan Produk Inovatif Glaukoma Implant

Dari beberapa hasil penelitian yang dilakukan para ahli, selain menghindari fobia jarum suntik, teknologi needle-free injection ini memiliki berbagai manfaat lainnya. Yaitu menghindari cedera kulit, obat masuk dengan lebih baik ke dalam tubuh, menjaga kestabilan obat saat penyimpanan, menghindari rekonstitusi dan shearing serta meningkatkan respon daya tahan tubuh pada vaksin imunisasi.

Tapi memang diakui bahwa teknologi ini masih mahal dan membutuhkan tenaga ahli untuk mengoperasikan. Dan juga, sistem needle-free injection ini tidak dapat mencapai jalur intravena tubuh.

Terkait lama proses pembiusan, menurut dr. Mahdian, bergantung pada jenis obat biusnya. Bukan pada penggunaan alat.

“Yang biasa dipergunakan itu Lidocaine, yang mulai terasa efek kebalnya pada menit 1-2 dan masa puncak di menit ke-10. Kalau pakai Pehacaine, lebih cepat. 30 detik sudah muncul efek kebalnya. Kalau Marcaine baru muncul efek kebalnya pada menit ke-5. Untuk hilangnya pengaruh bius, bervariasi antara dua hingga delapan jam,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here