Ketika Generasi Milenial Kurang Tertarik Dunia Pertanian

0
102
Dr. Imron Rosadi

News, Stemlannews.com – Masa Milenial yang saat ini digembar-gemborkan sebagai masa modern, terkadang menjadi membingungkan saat sesuatu yang menjadi kebanggan justru harus ditinggalkan karena dinilai sudah tidak sepopuler jaman sebelumnya. Seperti halnya profesi Petani, yang kini cenderung tergerus oleh jaman, bahkan dapat dikatakan, para pelaku di bidang pertanian justru didominasi oleh kaum senior, yang notabene tenaga dan jasmaninya sudah menurun.

Ahli Pertanian dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Swadaya Teladan Nasional Dr. Imron Rosadi, menjelaskan menjadi petani bukanlah suatu hal yang baru bagi bangsa Indonesia. Menjadi petani sejatinya adalah menjaga budaya Nusantara yang telah turun temurun.

“Ada keprihatianan kita saat ini, ketika sektor pertanian menjadi kurang menarik dari mayoritas masyarakat kita. Sebetulnya tidak bisa kemudian menyalahkan generasi muda, ketika sekarang ketertarikannya dengan dunia pertanian itu tidak maksimal. Bahkan bisa dibilang mending nganggur daripada jadi petani,” ujar pria yang lulusan dokter ini.

Lebih jauh, dirinya menjelaskan ketika pemuda  saat ini tidak tertarik dengan dunia pertanian, banyak pihak yang harus bertanggung jawab. Jangan hanya generasi mudanya saja.

“Sudahkah orang tuanya akan bangga ketika kuliahnya sarjana hukum kemudian pulang menjadi petani ? Apakah orang tuanya masih bangga ketika anaknya kuliah menjadi sarjana teknik, pulang menjadi petani ? Sudahkah orang tuanya masih merasa bangga ketika anaknya kuliah di kedokteran pulang jadi petani ? Artinya, sering kali orang tua mengatakan yang susah biar bapak saja, kamu tidak usah. Ditambah lagi banyak yang mencibir ketika seseorang menjadi petani saat telah selesai pendidikan tingginya,” paparnya.

BACA JUGA  Warga Jakarta Bisa Uji Publik LRTJ Tanggal 11 Juni 2019, Gratis !

Selain itu, dirinya juga mengaskan bagaimana lingkungan turut mengambil peran, bagaimana budaya nusantara ini sudah tak lagi seksi untuk digeluti.

“Memang salah sarjana teknik ke pertanian ? Alat dan mesin pertanian hari ini, masih banyak yang kita import karena secara teknologi kita masih kalah, karena kita belum berpikir pertanian modern seperti yang dimiliki korea dan cina,” tegasnya.

“Mari kita apresiasi petani. Jangan dicibir ketika ada sarjana teknik pulang menjadi petani. Jangan dicibir ketika ada sarjana hukum pulang menjadi petani. Masyarakat harus apresiasi ini. Pahlawan tanpa tanda jasa tidak ingin gelar, apresiasi saja. Kadang saya bicara seperti ini juga beban bagi moral saya. Seolah-olah petani ingin dihargai. Bukan…! saya hanya ingin mengajak ke teman-teman, saudara kita petani seolah-olah mereka warga Negara kelas kesekian. Padahal, tanpa mereka kita ini siapa?,” ungkapnya.

Petani Sulit Untuk Mencari Rezqi Haram

Mengenai apa yang dihasilkan oleh para petani dari setiap keringat yang diteteskan, Imron, memaparkan bagaimana profesi petani sangat mulia dan penuh resiko. Dirinya, menekankan Insya Allah, rezqi petani itu halalnya luar biasa. Paling sulit mencari rezqi haram para petani.

BACA JUGA  Ini Penjelasan Jasa Marga Mengenai Berita Hoax Struk Bukti Transaksi Tol

“Insya Allah, profesi petani itu susah untuk menjalankan barang haram. Selain itu, apakah karena rendah hatinya petani, atau rendah dirinya petani. Kalau karena rendah hatinya petani, kemudian dia tidak mengakui profesinya petani, saya salut. Dia tidak mau sombong bahwa dia pahlawan tanpa tanda jasa. Saya sangat khawatir ketika mereka tidak mengakui profesi petani karena rendah diri. Bagaimana petani bisa dihargai kalau mereka tidak bisa menghargai dirinya,” imbuhnya.

Mereview ingatannya kala sekolah, Imron, mengingatkan di mana saat di bangku sekolah dahulu gurunya mengajak ke sawah dan mereka menceritakan mereka itu siapa. Mengajarkan bercocok tanam, walaupun itu hanya di lingkungan sekolah. Sudahkah itu kemudian direfleksikan, apakah itu kira-kira yang menjadi penyebab.

“Ada potensi besar di bangsa ini kok kita tidak meliriknya ya. Jangan salahkan siapa-siapa ketika suatu saat, kalian hanya menjadi buruh tani. Jangan menyesal loh, ketika anak cucu kita akan menjadi pembeli produk saja tanpa mampu kita mengahasilkan,” tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here